Taat Lalu Lintas, Perlukah ?


Hiruk pikuk lalu lintas pagi ini kembali mewarnai hariku untuk memulai hari ini. Kusiapkan buku-buku diktat kuliah hari ini seperti aku menyiapkan sebuah kado untuk ulang tahun teman spesialku. Wajar hari ini adalah mata kuliah ‘favoritku’ Dasar Sistem Pengaturan. Berbeda dengan hari biasa hari ini aku berangkat ke kampus dari rumah kawanku di Palembang, jadi pagi-pagi aku harus siap dengan semua amunisi perkuliahan. Pasar Cinde, tujuan pertamaku. Dari rumah kawanku kutempuh tempat mangkal anak Unsri yang ke Inderalaya itu dengan sekali naik angkot.
KM 5 adalah angkot merah yang akan mengantarku menuju Cinde. Tidak ada hal yang aneh, namun sepertinya hari ini aku tidak banyak mengeluarkan uang kecilku untuk membayar ongkos angkot. Apakah ini nasib sial tukang angkot atau keberuntunganku, aku tidak terlalu memikirkannya. Semoga aku dapat mengambil hikmah dari semua ini.
Sampai di simpang Caritas aku mengambil ancang-ancang untuk memencet tombol kecil di dekat pintu belakang yang menandakan bahwa aku ingin berhenti. Seperti biasa aku tidak merasa kalau tindakanku itu salah, karena sebenarnya tempat itu adalah area dilarang berhenti. Bahkan terpampang rambu leter S besar di pinggir jalan. Biasa…Biasa.. dan Biasa. Karena sering juga aku turun di tempat itu dan selama ini tidak ada masalah apa-apa.
“Prit…prit..prit…”terdengar peluit aneh dari belakang
Ternyata sebuah mobil Patroli Polantas memberi isarat.
“KM 5…! Tidak liahat apa tanda di depan ? maju 100 meter dari situ….”teriak seorang polisi di dalam mobil dengan pengeras suara.
Seperti hujan tanpa awan mobil itu datang tiba-tiba. Entah aku yang tidak mengetahui kedatangannya atau memang polisi itu mahluk misterius. Tapi anehnya ternyata pak sopir juga baru menyadari kalau ada Polisi di belakang kendaraanya, sehingga ia mau untuk menurunkanku di tempat itu.
“Yah polisi…”mungkin itu pikiran pak sopir saat itu.
Dengan berat hati ia memacu angkotnya dan meninggalkanku sebelum aku memberinya ongkos. Ku kejar angkot itu dengan leri-lari kecil. Aku berharap ia berhenti 100 meter di depan sesuai instruksi Pak Polisi. Tapi apa boleh buat ternyata dia malah memilih memacu angkotnya dengan kencang, jauh meninggalkan aku. Astagfirullah… padahal aku adalah penumpang satu-satunya yang ia bawa. Ternyata rambu-rambu lalu lintas saja tidak cukup…. Perlu ada kesadaran…perlu ada keikhlasan…dan perlu ada pengawas….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.